Kesempatan Terakhir untuk Menjadi Pemegang Saham Prodia Diagnostic Line
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) sedang menutup masa penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada hari ini, Selasa 7 Juli 2026, pukul 09.00 WIB. Ini menjadi kesempatan terakhir bagi investor yang ingin memperoleh saham perusahaan tersebut.
Pembukaan penawaran umum IPO PRDL telah berlangsung sejak 1 Juli 2026. Harga saham IPO ditetapkan sebesar Rp 120 per saham. Dengan harga tersebut, permintaan saham PRDL sangat tinggi. Hingga Selasa (7/7) pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 1,2 juta Single Investor Identification (SID) yang mengantre untuk mendapatkan saham PRDL.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan dan pengolahan alat kesehatan diagnosis ini menawarkan sebanyak 522,90 juta saham. Jumlah ini setara dengan 30% dari modal disetor dan ditempatkan penuh pasca IPO. Dengan demikian, PRDL berpotensi mengumpulkan dana segar sebesar Rp 62,74 miliar dari hasil IPO.
Dana tersebut akan digunakan untuk berbagai kebutuhan perusahaan, seperti ekspansi bisnis, pengembangan produk, dan peningkatan kapasitas operasional. Berdasarkan prospektusnya, dengan harga IPO sebesar Rp 120 per saham, Price to Earning Ratio (PER) PRDL mencapai 8,61 kali. Sementara itu, Price to Book Value (PBV) PRDL berada di level 0,000022 kali.
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menjelaskan bahwa PRDL memiliki lebih dari 1.083 SKU produk. Produk perusahaan menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota serta telah digunakan oleh lebih dari 7.611 pelanggan di Indonesia.
“Jaringan kami mencakup sekitar 6.924 puskesmas, 288 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya,” ujar Cristina dalam acara Stock Idea Talks Sucor Sekuritas, Rabu (1/7).
Prospek Industri Kesehatan yang Menjanjikan
Cristina menyatakan bahwa prospek industri kesehatan masih sangat menjanjikan. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp 244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau sekitar 140 juta penduduk.
Selain itu, adanya dukungan dari lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia dan meningkatnya fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit membuat industri in vitro diagnostics memiliki ruang pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.
“Dengan jaringan distribusi yang telah mencakup hampir seluruh Indonesia serta dukungan produk ber-TKDN tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan layanan kesehatan nasional,” tambah Cristina.
Kinerja Keuangan yang Menggembirakan
Melansir kinerja tahun buku 2025, PRDL membukukan pendapatan sebesar Rp 74,4 miliar atau meningkat 27% secara tahunan. Dari sisi bottom line, laba bersih PRDL melonjak 70,7% secara tahunan menjadi Rp 16,9 miliar.
Dengan fondasi bisnis yang kuat dan prospek industri yang cerah, Cristina optimistis pihaknya dapat memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis dan meningkatkan kapasitas operasional.
